Mencintai bukan perkara sukar bagiku, jika itu perihal orang lain. Aku bisa jatuh cinta pada kekurangan orang, lalu memandangnya sebagai bentuk kelebihan. Bahkan, karya tak keruan bisa kuhargai dengan penuh kebanggaan.
Namun, aku tidak bisa melakukannya kepada diri sendiri. Kalian tahu? Sulit sekali melenyapkan berbagai prasangka buruk yang telah bersemayam dalam diri sejak lama sekali.
Aku kerap berusaha untuk bangga, tetapi kenyataan yang ada justru membuatku bersikap sebaliknya.
Aku masih ingat betul, sepeninggal Anggi—adik perempuanku—banyak yang mengatakan, "Andaikan ia masih hidup, tentu aku tidak akan ada apa-apanya."
Mau bagaimana lagi, nyatanya memang tidak semua manusia memakai otaknya untuk berpikir, 'kan?
Sedari kecil aku telah merasa tersisih. Orang tuaku yang sibuk bekerja, mereka-mereka yang selalu menilai keburukanku saja, kerap dibandingkan dengan teman sebaya, hingga mengalami suatu hal yang kian membuatku ingin enyah dari dunia.
Hingga kini, aku kesusahan untuk merasa istimewa. Lagi pula, bukankah sedari kecil memang aku tidak pernah ada baiknya? Lahir sebagai perempuan dekil dari keluarga miskin nyatanya begitu menyiksa. Seolah tidak ada satu pun makhluk yang memperbolehkanku untuk berbahagia.
Sering aku berprasangka buruk terhadap Tuhan tentang takdir-Nya. Mengapa Ia terus membiarkanku ada jika hanya untuk merasa tersiksa?
Sungguh, hingga detik ini aku masih berusaha sekuat tenaga agar mampu berdamai dengan masa lalu yang terlampau banyak kenangan buruknya.
Orang-orang yang seenaknya mengeluarkan serapah dari mulut sampah, perbandingan-perbandingan yang membuatku gerah, hingga laki-laki dengan gelar 'pemuka agama' yang kuharap lekas punah.
Ya, pada kenyataannya aku tidak pernah bisa meminta apa pun pada Tuhan agar menyempurnakan hidupku yang telanjur penuh kebencian. Namun, bisakah aku meminta bantuan pada kalian agar berhenti menciptakan berbagai hal baru yang memuakkan?
Sungguh, aku butuh sesekali mencintai diri sendiri.
Kalian tahu, memakai topeng bukanlah hal mudah. Itu juga kerap membuatku lelah. Jadi, tolong bantu aku untuk bisa mencintai diriku.
Agar api amarah yang terkubur jauh dalam nurani ini bisa padam dengan perlahan. Agar tak lagi kulampiaskan segala emosi pada anakku yang sebenarnya tak pernah bersalah.

0 Comments