![]() |
Gambar oleh Pheladi Shai dari Pixabay |
Kata siapa aku tak merindumu? Buktinya, setiap doa yang terucap lirih dari bibirku selalu selipkan namamu.
Bagaimana bisa kau berpikir aku melupakanmu? Sedangkan aku tidak pernah menemukan cara untuk sebentar saja tidak mengingat mata indahmu.
Senyummu telah memabukkanku. Membuatku tersesat pada tempat yang lebih membingungkan dari sekadar labirin raksasa yang mencoba untuk mengecohku.
Setangkai bunga mawar yang merekah merah, telah berhasil menghipnotis diriku. Kau mampu menyanjungku dengan memberikan apa yang begitu menjadi favoritku dengan cara yang sungguh di luar dugaanku.
Setelah semua mantra yang kau ucap berhasil menyihirku. Bagaimana bisa kau masih berpikir aku mampu terlepas darimu? Bahkan mencobanya saja aku tak mampu.
Terlalu dalam kau menanamkan rasa pada hatiku yang tengah pilu. Hingga tiada bisa lagi kumerasa selain cinta darimu. Lantas apa yang membuatmu resah hingga sedemikian meragukanku?
Apa hanya karena kita tidak dapat bertemu untuk sementara waktu?
Kasih, sungguh ... aku juga rindu. Inginku untuk menemuimu jelas lebih besar dari apa yang kau tahu. Namun aku paham posisiku. Tidak mungkin aku berterus terang jika ingin memelukmu. Sedangkan kamu bukanlah milikku.
Kita sama-sama terjebak pada jaring asmara yang tidak seharusnya. Kau bersamanya namun tetap mengaharapkanku. Pun sebaliknya, aku yang tak pernah bisa berhenti menginginkanmu meski terang sekali kau bukan ditakdirkan untukku.
Namun kita selalu ingin bermain dengan takdir. Mencari-cari cara supaya kitalah yang mengatur takdir kita. Bukan malah sebaliknya, kita yang harus mengikuti jalan takdir yang telah ditentukan untuk kita.
Kita tetap ingin bersama meski tidak mungkin untuk selamanya. Kita begitu haus akan cinta meski tak ingin menyakiti siapa-siapa. Lantas, aku harus bagaimana?
Haruskah aku merayu takdir agar mendukung cinta kita yang tak semestinya? Atau haruskah kuteriakkan kepada semua orang bahwa kita saling menaruh rasa? Lalu kita akan melihat banyak orang yang akan meneteskan air bening dari pelupuk matanya karena kecewa pada cinta kita.
Aku merindumu, Ungu. Sungguh! Bahkan ketika kupikir aku takkan lagi merindukan sosokmu. Semakin menggebu kerinduan itu mengoyak relung jiwaku.
Wringinanom, 07052017
Aprilia (10:11)
20 Comments
Heuheuuu antara mellow dan bikin senyum-senyum sendiri 🙈
ReplyDeleteAh suka deh kalo bisa bikin dek may senyum* 😀
DeleteHeeheeuuuuu......
ReplyDelete😊
Delete😊
DeleteUntaian kata yg bagus. Salam sastra dan kenal dariku.
ReplyDeleteTerimakasih mbak.. salam sastra dan salam kenal juga dariku 😊
DeleteDuh, meleleh bacanyaaaa
ReplyDeleteSemoga rindu ini bisa terhantarkan dgn baik yaaa
Mungkin takdir sedang menguji cinta itu.
ReplyDeleteAkankah dia lolos, atau akhirnya menyerah, patah, punah, atau tumbuh dgn cabang baru.
Melting bacanya..
ReplyDeleteNggak tahu harus komen apa
Suka dengan pilihan kata dan keseluruhan karya. Bagus sekali ini Mbak...Dibikin part 2, 3 dan seterusnya saja seperti berseri. Penasaran sama endingnya, apakah nekad merindu dan bertemu. Ataukah membuang segala rasa itu
ReplyDeleteMbak...kok bisa nulis kayak gitu? Menyentuh dan mengharu-biru. Nyerah deh aku…
ReplyDeleteMerindunya sampai terasa sembilu menusuk tulang
ReplyDeleteCinta yang tak ingin kurasa lagi
Rindu terlarang ceritanya ya mba, duh miris, bagaimana cara menuntaskan rindu kalau seperti itu
ReplyDeleteBerpihak pada rindu adalah hal yang wajar, dimana rindu menjadi pemenangnya. Salam sastra dari saya penulis puisi cinta hehe
ReplyDeleteMomen paling bagus untuk menulis seperti ini adalah saat jatuh cinta, merindu, dan patah hati 😀
ReplyDeleteSemangat Kakak. Saya kurangbpandai menerjemahkan sajak. Kadang bisa menghasilkan puisi tu kalo hati lagi mellow.
ReplyDeletebikin melting mbaaaa
ReplyDeletekerennn sajaknya
Duh, tulisannya bikin aku teringat sama seseorang yang selalu kurindu, namun entah kapan bisa bertemu. Mungkin selamanya takkan pernah terjadi. Takdir sudah memisahkan kami. :')
ReplyDeleteAih asyik juga nih kata-katanya. Jadi ingat pertama kali bikin blog tuh isinya ya puisi. Satu blog isinya puisi semua. Sampai sekarang pengen ketawa sendiri kalau baca-baca lagi.
ReplyDelete