Aku hanya ingin sedikit bercerita. Tentang cinta yang berubah menjadi nestapa, tentang kebahagiaan yang berubah menjadi derita. Aku ... sebut saja mawar merah yang indah. Namun layu saat Sang Kumbang datang hanya untuk hinggap, lalu terbang jauh mencari bunga lain yang lebih indah.
Terkadang aku berpikir, mengapa seekor kumbang tak pernah puas dengan hanya sekuntum bunga? Apa yang ia cari sebenarnya? Tak bisakah ceritakan saja pada satu bunga itu supaya Sang Bunga dapat berusaha memenuhinya? Atau setidaknya, tak bisakah Sang Kumbang mencintai Sang Bunga tanpa ada blablablabla?
Entahlah, beberapa cinta memang terkadang hanyalah sebuah pembodohan semata. Semua mimpi yang tertata rapi dapat musnah sekejap saja hanya karena cinta yang dikhianati. Namun, entah bodoh atau memang terlanjur cinta, berkali itu terjadi aku tetap mencintai Kumbangku ini. Ya, aku masih saja tetap setia meski dia telah menggoda beberapa bunga lainnya.
Akupun tak mengerti kebodohan seperti apa yang sedang terjadi, hingga berulang kali aku tersakiti, berulang kali pula aku memaafkan lagi. Mungkin karena di hati ini tak pernah padam oleh harapan. Ya, harapan bahwa dia akan sadar dan kembali menjadi kumbang yang selalu aku dambakan. Namun harapan ini seperti fatamorgana yang tak pernah menjadi kenyataan. Hanya ada dalam angan tanpa ada pembuktian. Berulang kali dia meminta maaf, berulang kali aku memaafkan, dan berulang kali pula ia mengulangi kesalahannya lagi dan lagi.
Jera, sungguh aku jera. Namun karena cinta, aku masih tetap mempertahankannya. Selalu berdoa supaya dia dapat mengerti apa yang kurasa saat ini dan takkan pernah mengulangi kesalahannya lagi. Bahkan hanya tangisku yang mampu membalas amarahnya. Hanya isakku yang dapat membalas tuduhannya. Dan hanya diamku yang dapat menjelaskan kecewaku padanya.
Mengapa dia yang harus memakiku? Bukankah aku sosok yang terluka dalam kisah ini? Kenapa dia yang memarahiku? Bukankah harusnya aku yang melontarkan semua sumpah serapahku hingga lega karena keluarlah semua amarah dalam hatiku? Begitu pandai ia bersandiwara, hingga tiada bisa kubedakan mana tangis palsunya. Dan tiada pula dapat kuketahui mana sifat aslinya. Begitu manis tutur katanya, hingga aku larut dan memercayakan semua kepadanya.
Hingga pada suatu titik aku tersadar bahwa dia bukanlah sosok yang dengan tulus mengasihiku. Dia bukan sosok yang akan berkorban demi hanya melihat senyum manis di bibirku. Dia, hanya peduli dengan dunianya dan kebahagiaannya.
Dan aku, aku adalah bunga yang terlalu bodoh. Terlalu naif mengenai cinta. Begitu tulus aku menyayanginya, hingga tak dapat melihat kejahatan dari sorot matanya. Terlalu percaya aku kepadanya, terlalu meyakini bahwa dia takkan pernah sedikitpun menyakitiku, meski pada kenyataannya aku merasakan getir cinta darinya. Namun aku terus menolak untuk mengakui bahwa dia memanglah bukan sebaik yang kukira.
Kini, aku mengerti. Tak perlu begitu dalam aku mencintai. Jika memang tak ingin terlalu sakit saat kembali terkhianati. Kini, enggan aku percaya pada sosok kumbang mana saja, meski terkadang cinta mereka terasa begitu tulus adanya. Aku sudah lelah merasakan cinta yang tak sempurna. Hingga kini sakit dan perih itu masih terasa. Dan biarlah kelak, seseorang menghapusnya dengan cinta sempurna darinya.
Gresik, 06032016
By the way, terima kasih ya yang sudah sudi membaca. Jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun ya :))
Lebih baik sendiri menunggu cinta yang benar, daripada berdua dengan cinta yang salah!
23 Comments
Terus berkarya, sukses slalu beb.
ReplyDeleteaamiin, makasih beb :*
DeleteCurahan hatinya indah..
ReplyDeleteini mah ngenes :D
DeleteCurahan hatinya indah..
ReplyDeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDeleteDalem bgt
ReplyDeleteTerus berkarya, ya? ^_^ Bagus tulisanmu. ^_^
ReplyDeleteTerimakasih mbak.. masih amatiran ini. Masih belajar ngeblog
DeleteMelepas yang memang membuat kita tidak bahagia, benar-benar melegakan ya. Setidaknya, kita berani selangkah lebih baik dalam hal menghargai perasaan pribadi
ReplyDeleteBagus mbak, sepertinya ada pesan yang di sampaikan di sajak ini. "jangan terlalu dalam untuk mencintai, agar tidak terlalu sakit apabila kecewa itu datang". Memang ya mbak, semua yang serba terlalu itu tidak baik.
ReplyDeleteDalem banget.
ReplyDeleteSaya selalu kesulitan jika ada tugas puisi dan prosa di WAG menulis fiksi.
Masih mending cerpen, hihi...
Keren mbak April
Tetap buka hati ☺️☺️
ReplyDeleteAku tak pandai dalam hal cinta-cintaan, lebih baik aku bersama orang yg tulus mencintaiku dan membuat aku belajar mencintainya, karena ketulusan dapat menumbuhlam cinta jika TUHAN ijinkan.
Cheerss, be happy!!
Mencintai itu indah tapi dengan tidak menyakiti diri sendiri
Semoga penantian tidak sia-sia dan segera bertemu orang yang tepat. Tulisannya bagus ^^
ReplyDeleteSetuju banget dengan kalimat penutupnya. Di dunia nyata, ada yang seperti itu. Bahkan saya pun mengenal salah satunya. Pokoknya jangan sampai cinta buta, deh
ReplyDeleteYess sepakat mbak. Seindah-indahnya cinta, tapi itu bukan suatu hal yang baik & benar, maka banyak yang akan terluka. Renungan yang indah mba ❤️
ReplyDeleteCinta harusnya membebaskan, membuat bahagia.
ReplyDeleteDengan luka cinta saat ini, di masa depan akan memahami senyuman cinta.
insya Allah.
Adakah cinta yang sempurna?
ReplyDeleteNampaknya ga ada
Tapi angle emang bisa berbeda, tergantung keyakinan. Opini dan data
Aku engga bias bersajak. Engga bisa menuliskan juga kata-kata cinta. Aku paling dengan perbuatan aja deh.
ReplyDeletePesan yang disampaikan sangat pentiing. Agar tidak mencintai sepenuh hati, agar tidak terlalu mendalam rasa luka akibat dikhianati. Bagus Kak. Semangaat
ReplyDeleteHati itu luasnya tak terhingga dan sabarnya luar biasa. Namun, sebagai manusia biasa, kita tetap harus mempunyai batas sabar sendiri. Hehehe.
ReplyDeleteBaca kisah ini jadi ingat ibu saya, sosok wanita yang kuat, walau berulang kali disakiti oleh bapak, masih juga bertahan. Sampai saya jadi sebal
ReplyDeleteSemoga dipertemukan dengan cinta yang sempurna atau mendekati sempurna... meskipun tak tahu kapan itu datang.. tetep. semangat dan positive mind..
ReplyDelete