Gambar oleh Marie dari Pixabay


Aku hanya ingin sedikit bercerita. Tentang cinta yang berubah menjadi nestapa, tentang kebahagiaan yang berubah menjadi derita. Aku ... sebut saja mawar merah yang indah. Namun layu saat Sang Kumbang datang hanya untuk hinggap, lalu terbang jauh mencari bunga lain yang lebih indah.

Terkadang aku berpikir, mengapa seekor kumbang tak pernah puas dengan hanya sekuntum bunga? Apa yang ia cari sebenarnya? Tak bisakah ceritakan saja pada satu bunga itu supaya Sang Bunga dapat berusaha memenuhinya? Atau setidaknya, tak bisakah Sang Kumbang mencintai  Sang Bunga tanpa ada blablablabla?

Entahlah, beberapa cinta memang terkadang hanyalah sebuah pembodohan semata. Semua mimpi yang tertata rapi dapat musnah sekejap saja hanya karena cinta yang dikhianati. Namun, entah bodoh atau memang terlanjur cinta, berkali itu terjadi aku tetap mencintai Kumbangku ini. Ya, aku masih saja tetap setia meski dia telah menggoda beberapa bunga lainnya.

Akupun tak mengerti kebodohan seperti apa yang sedang terjadi, hingga berulang kali aku tersakiti, berulang kali pula aku memaafkan lagi. Mungkin karena di hati ini tak pernah padam oleh harapan. Ya, harapan bahwa dia akan sadar dan kembali menjadi kumbang yang selalu aku dambakan. Namun harapan ini seperti fatamorgana yang tak pernah menjadi kenyataan. Hanya ada dalam angan tanpa ada pembuktian. Berulang kali dia meminta maaf, berulang kali aku memaafkan, dan berulang kali pula ia mengulangi kesalahannya lagi dan lagi.

Jera, sungguh aku jera. Namun karena cinta, aku masih tetap mempertahankannya. Selalu berdoa supaya dia dapat mengerti apa yang kurasa saat ini dan takkan pernah mengulangi kesalahannya lagi. Bahkan hanya tangisku yang mampu membalas amarahnya. Hanya isakku yang dapat membalas tuduhannya. Dan hanya diamku yang dapat menjelaskan kecewaku padanya.

Mengapa dia yang harus memakiku? Bukankah aku sosok yang terluka dalam kisah ini? Kenapa dia yang memarahiku? Bukankah harusnya aku yang melontarkan semua sumpah serapahku hingga lega karena keluarlah semua amarah dalam hatiku? Begitu pandai ia bersandiwara, hingga tiada bisa kubedakan mana tangis palsunya. Dan tiada pula dapat kuketahui mana sifat aslinya. Begitu manis tutur katanya, hingga aku larut dan memercayakan semua kepadanya.

Hingga pada suatu titik aku tersadar bahwa dia bukanlah sosok yang dengan tulus mengasihiku. Dia bukan sosok yang akan berkorban demi hanya melihat senyum manis di bibirku. Dia, hanya peduli dengan dunianya dan kebahagiaannya.

Dan aku, aku adalah bunga yang terlalu bodoh. Terlalu naif mengenai cinta. Begitu tulus aku menyayanginya, hingga tak dapat melihat kejahatan dari sorot matanya. Terlalu percaya aku kepadanya, terlalu meyakini bahwa dia takkan pernah sedikitpun menyakitiku, meski pada kenyataannya aku merasakan getir cinta darinya. Namun aku terus menolak untuk mengakui bahwa dia memanglah bukan sebaik yang kukira.

Kini, aku mengerti. Tak perlu begitu dalam aku mencintai. Jika memang tak ingin terlalu sakit saat kembali terkhianati. Kini, enggan aku percaya pada sosok kumbang mana saja, meski terkadang cinta mereka terasa begitu tulus adanya. Aku sudah lelah merasakan cinta yang tak sempurna. Hingga kini sakit dan perih itu masih terasa. Dan biarlah kelak, seseorang menghapusnya dengan cinta sempurna darinya.


Gresik, 06032016

By the way,  terima kasih ya yang sudah sudi membaca. Jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun ya :))
Lebih baik sendiri menunggu cinta yang benar, daripada berdua dengan cinta yang salah!